Bukan Kertas Putih

Sering kali kita mendengar kalau anak kecil/bayi itu bagai kertas putih polos, tergantung kita menulisnya dengan tinta warna apa dan apa saja yang kita tulis disitu. Baru-baru ini saya sadar dengan hal yang membuat saya tidak setuju dengan ungkapan tersebut.

Menurut saya anak kecil atau bayi itu bukan kertas putih polos, tapi mereka adalah kertas putih yang sudah terisi tulisan, dan tulisan itu tentang semua hal yang baik, atau bahkan mungkin sangat baik. Tuhan sudah menuliskan itu semua. Hanya saja tulisan itu bukan ditulis  dengan bolpen atau spidol marker yang sulit untuk dihilangkan. Tulisan itu ditulis dengan pensil yang mudah dihapus dengan penghapus.

Nah, tugas kita disini sebagai orang tua adalah menebali tulisan itu dengan bolpen atau mungkin menambahkan hal-hal lain yang baik. Tapi saya cenderung dengan kita hanya menebalkan tulisan dari pensil tadi, karena saya yakin hal yang baik atau sangat baik udah ditanamkan pada diri anak kita oleh Tuhan.

Bagaimana saya bisa mengatakan seperti itu? Satu contoh, anak kita sering sekali bangun pagi, subuh atau bahkan belum subuh. Dari artikel yang saya pernah baca (maaf lupa sumbernya) tubuh anak kita sudah diset untuk beribadah sholat subuh saat bangun pagi itu. Tapi kadang ada orang tua yang malah sibuk menidurkannya kembali karena takut aktifitas paginya terganggu atau mungkin mereka juga masih ingin tidur. Nah kalau kita lakukan hal tersebut bisa jadi anak kita jadi malas bangun pagi nantinya. Begitulah tulisan dari pensil tadi terhapus dan terisi tulisan lain yang secara tidak sadar itu adalah hal yang tidak kita inginkan di kemudian hari.

Contoh lain yang bisa saya ambil dari anak saya adalah rasa kemantil sekali sama kedua orang tuanya, terutama ibunya. Saya rasa ini adalah sifat baik, karena ada beberapa kasus dimana orang tua punya hubungan yang dingin atau tidak dekat dengan anaknya.

Satu lagi, anak teman saya yang punya rasa empati yang tinggi, dia bisa menangis tersedu melihat video lagu keluarga bebek yang satu persatu anaknya hilang. Menurut saya itu biasa saja, mungkin karena rasa empati saya tidak sebesar anak itu.

Dari ketiga kejadian ini saya yakin kalau anak itu bukan kertas putih polos, melainkan kertas yang ditulis dengan hal-hal yang sangat baik oleh Tuhan.

Daycare

Sebuah postingan yang mengandung kegundahan tingkat tinggi bagi keluarga saya. Bahkan mungkin keluarga lain yang ingin membesarkan anak mereka sendiri, dengan jerih keringat mereka sendiri karena merasa sangat berharganya seorang anak, sehingga kita pun ingin melindunginya dengan seluruh jiwa raga kita. Bisa juga dikatakan sulit percaya pada orang lain.

Sudah 6 bulan lebih, saya dan istri merawat anak kami sendiri, dibulan-bulan awal ada bantuan dari beberapa saudara dekat karena kita masih awam bagaimana mengurus bayi. Semenjak pindah ke rumah sendiri, kita mengurus anak tanpa ada bantuan dari orang lain. Pekerjaan saya pun bisa dikatakan berubah menjadi Full Time Baby Sitter , karena istri pagi sampai sore bekerja di kantor.

Harapan saya, saya masih bisa menyambi kerjaan dengan momong Ramona, tapi pada kenyataannya itu sulit. Saya masih sulit membagi waktunya. Mau bekerja total di malam hari kadang sudah kalah dengan capeknya.

Hal itu yang membuat kita berpikir untuk menitipkan anak di Tempat Penitipan Anak atau Daycare. Kenapa tidak hire Baby Sitter saja? Ada beberapa alasan;

  1. Banyak testimonial buruk tentang Baby Sitter, bahkan terjadi di Malang juga
  2. Hire tetangga? Tanpa kompetensi yang cukup saya takut anak saya salah asuh.

Alasan kenapa memilih Daycare?

  1. Ramona tidak sendirian disana, dia bisa berinteraksi dengan teman-teman dan pengasuhnya. Di rumah pun kadang lebih sering saya tontonin Youtube karena saya harus melakukan hal lain buat mengalihkan perhatiannya. Itu salah!
  2. Pengasuh disana punya kompetensi untuk mengasuh anak secara benar.

Jadi kenapa ga langsung dimasukin ke daycare aja? Nggk segampang itu juga, kita masih harus milih-milih daycare mana yang baik buat Ramona. Bukan asal capcipcup. Pencarian daycare juga nggk 1-2 hari kita lakuin. Kurang lebih sebulan lalu kita juga uda survey ke beberapa daycare. Dan udah sempet juga 1 minggu ditinggal di daycare buat percobaan. Dan menurut kita memang kurang cocok juga disana. Alasannya kurang tenaga pengasuh.

Sekitar 1 bulan yang lalu kita mulai mencari daycare lagi. Dan ada 1 daycare yang menurut kita pas, pas jaraknya karena tidak terlalu jauh dengan rumah, pas kondisi tempatnya juga.

Dan hari ini adalah hari pertama Ramona main di daycare.

Gimana rasanya? Masih ada yang kurang rasanya, karena selama 6 bulan lebih dia selalu sama saya. Sekarang cuma saya  aja yang ada di rumah. Tapi ini juga demi kebaikan keluarga; Saya, Istri dan Ramona.  Semoga Ramona betah dan bertambah ilmunya di daycare. Dan semoga ini menjadi pilihan tepat bagi keluarga kami. Aamiin.

Melunasi Janji “3 Bulan Lebih”

Janji adalah janji, tapi kosong adalah berisi. Sudah saatnya saya melunasi janji di post saya sebelumnya. Singkat saja ya. Ini hanya sebuah pengingat, khususnya buat saya sendiri. Karena ga tau juga apa ada yang baca blog saya ini 😛

1. Lahirnya Rufaidah Ramona Nizamil Putra

Anak pertama saya yang lucu dan menggemaskan ini lahir pada hari Jum’at malam pukul 22.40 WIB tanggal 18 Maret 2016. Alhamdulillah melalui persalinan normal dengan effort istri yang cukup melelahkan. Karena ngelarani (merasakan sakit)-nya udah mulai hari Selasa, dan tidak kunjung cepat proses dari bukaan ke bukaan. Proses pemecahan ketuban secara manual pun harus dilakukan karena bukaan tak kunjung cepat. Setelah proses pemecahan ketuban pun istri saya harus diinduksi karena masalah yang sama. Induksi itu sakitnya minta ampun lho (katanya begitu). Saya melihat istri sayapun tak tega, sampai-sampai dia minta oprasi saja karena ga tahan dengan sakitnya induksi.Padahal dia termasuk orang yang bersikukuh harus melahirkan normal.

Alhamdulillah dengan bantuan perawat-perawat dan tante saya yang juga menunggu proses lahiran anak saya, istri saya pun dikuatkan dengan nasehat-nasehat mereka. Alhamdulillah 2 jam sejak dimasukan cairan induksi melalui infus, lahirlah anak kami yang kami beri nama Rufaidah Ramona Nizamil Putra. 

Artinya?

Rufaidah – Adalah sahabat Rasulullah SAW yang berjuang pada masa Rasulullah sebagai perawat, dan dia dikenal sebagai perawat Islam pertama. Dia bertugas merawat prajurit-prajurit yang terluka saat perang juga. Lebih lengkapnya silahkan googling sendiri riwayat dari Rufaidah :). Secara general Rufaidah mempunyai arti Helper atau Penolong.

Ramona – Sejujurnya saya terinspirasi dari nama anak Jessica Hische yang bernama Ramona juga. Setelah saya googling arti kata Ramona juga bagus, dari bahasa Spanyol yang berarti Bijaksana. So kenapa tidak? 🙂

Nizamil Putra – Itu nama Ayahnya :).

Jadi Rufaidah Ramona Nizamil Putra harapan kami bisa menjadi Seseorang yang Helpful and WiseAamiin…

 

2. Hidup Nomaden

Sebelum anak saya lahir, saya dan istri berencana membeli rumah lewat jalur KPR dengan pertimbangan lokasi yang dekat dengan lokasi kantor istri. Biar tidak capek dan bisa nyusuin gitu kalau Ramona udah lahir. Tapi setelah Ramona lahir dan cuti juga sudah habis, rumah belum jadi. Karena belum lunas juga uang mukanya :).

Akhirnya kita coba untuk pulang-pergi dari Jabung ke Sukun, dan anak kami dititipin ke emak (tetangga yang mengasuh saya saat kecil). Ternyata istri saya merasa terlalu capek, karena malam masih harus bangun juga buat nyusuin. FYI waktu kerja istri saya mulai jam 7.30 – 17.00. Kalau telat potong gaji! Ya kami harus berangkata jam 6an pagi, pulang sampe rumah sekitar jam 6 lebih.

Minggu berikutnya kita coba tinggal di rumah budhe, sekitar 5 KM dari kantor istri. Harapannya bisa nyusuin wakti istirahat siang. Eh ternyata istri capek perjalanan juga ketika harus nyusuin waktu siang. Karena kita juga ga mau ngrepotin budhe, kita balik kucing tinggal di rumah Jabung, dengan ritme sama seperti rencana awal.

Sambil menunggu rumah jadi dan siap ditempati.

 

3. Peliknya Membeli Rumah di Perumahan

Alhamdulillah pas puasa hari pertama kita bisa tinggal bertiga di rumah baru. Kalau mau flashback dikit, menempati rumah baru ini ga segampang asal nylempung aja. Kalau saya menilai saya semacam di-push untuk cepat-cepat realisasi dengan bank oleh pihak developer perumahan. Melihat rumah sebenarnya belum 100% jadi, tapi kita sudah disuruh cepat-cepat realisasi.

Ok lah, kita turutin dengan berbagai alasan yang dilontarkan si marketing. Masalahnya biaya realisasi itu ternyara ga murah lho! Saya pun sebenarnya masih ragu, takut, dengan RIBA meskipun saya pakai bank syariah. Terus untuk biaya realisasi apa saya harus ngutang bank lagi?? Disini saya benar-benar pusing mikirinnya. Masa’ masih harus nambah dosa lagi :(. Tapi alhamdulillah ada teman yang mau memberikan pinjaman lunak kepada saya (Suwun yo mas).

Jujur saja, saya kurang puas dengan hasil kerja developer perumahan ini. Tapi tetap alhamdulillah saya sudah bisa tinggal seatap dengan keluarga kecil saya.

3 Bulan Lebih

Sudah 3 bulan lebih saya tidak pernah menulis di blog ini. “Sibuk” mungkin bisa menjadi alasan untuk menyangkal alasan yang sebenarnya, yaitu “malas”. Saya lebih memilih untuk memendam saja dalam otak, padahal memori itu bisa terhapus dengan mudahnya jika hanya disimpan di otak. Sebelum memori itu terhapus, dia akan memenuhi otak yang menimbulkan berbagai macam gejolak dan membuat mental saya lelah. #ahsudahlah

Dalam 3 bulan ke belakang, banyak sekali kejadian-kejadian yang terjadi di hidup saya. Yang paling saya syukuri adalah lahirnya putri pertama saya dan istri, RUFAIDAH RAMONA NIZAMIL PUTRA. Saya akan bahas sendiri tentang kelahiran anak saya nanti. Selain itu saya dan istri juga mengalami hidup nomaden karena rumah belum jadi. Dan saya pun mengalami peliknya membeli rumah di perumahan.

Ok, insya Allah akan saya bahas 3 kejadian itu dipost-post selanjutnya. Semoga saya bisa melawan MALAS!

Urus saja urusanmu

Ya, saya terlalu banyak memikirkan hal-hal yang di luar urusan saya, hal-hal yang sebenarnya diluar kewenangan saya. Lelah, itu yang saya rasakan. Ga ada yang lain dan tidak mengubah apapun menjadi lebih baik.

Yang lebih parah lagi adalah saya terlalu mencampuri urusan sang Pemilik jiwa raga ini. Tidak percaya dengan apa yang Dia janjikan. Saya sibuk membuat skenario untuk mencapai tujuan saya. Kalau Dia tidak ridho apa yang bisa saya perbuat?

Sesimpel itu. Jadi fokus saja sama urusanmu jangan urus urusan orang lain. Apa lagi urusan Tuhanmu.

Datang, makan, tidur

Selama saya dan istri ngekos, kegiatan rutin setelah pulang kerja adalah makan malam, ngobrol sebentar, lalu tidur. Tidak jarang saya tidur sebelun atau sesudah adzan isya’. Kadang sholat isya’nya jadi jam 3 pagi.

Sebenarnya lokasi ke tempat kerja saya jadi lebih dekat daripada saya harus pulang-pergi dari Jabung, cuma 5 km. Tapi ga tau setelah pulang kerja badan rasanya capek semua dan pengen tidur. Apa karena ruangan yang dituju cuma satu, ruang tidur saja? Memang ga ada ruang tamu atau ruang berkumpul sih di kosan ini.

Entahlah apa sebabnya, tapi yang saya takutkan adalah ketika Kakak lahir bagaimana kalau saya datang kerja dan bawaanya capek pengen tidur seperti sekarang? Sementara teman-teman saya di group Caravanserai malam ini lagi nurutin anaknya yang lagi pengen main ini itu.

Ga bisa ini, ga bisa dibiarin siklus jelek kayak gini. *ngetik sambil kiyep-kiyep*