Ada Cerita Dibalik Keberangkatan Haji

Setelah lebih dari 5 tahun menunggu, alhamdulillah tahun ini Bapak, Ibu dan Nenek saya diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ada beberapa cerita yang ingin saya bagi disini, karena ini baru pertama kali di keluarga dekat saya ada yang menjalankan ibadah haji, sekaligus pengalaman saya pertama kali mengikuti semua prosesinya. Sebelumnya ada keluarga yang sudah lebih dulu menunaikan, hanya saja saya tidak bisa ikut langsung dalam prosesi sehari-hari menjelang keberangkatan.

H-8 Sebelum Pemberangkatan

Ibadah haji adalah ibadah yang mahal, mahal biaya pendaftarannya juga mahal biaya-biaya lainnya. Apa saja biaya lain-lainnya?

Saya tinggal di desa yang notabene kehidupan di desa lebih kekeluargaan dibanding dengan hidup di kota. Sebelum pemberangkatan jemaah haji ada prosesi syukuran yang biasa dikenal dengan Walimatus Safar, dan juga bisa dijadikan momen untuk berpamitan dan mohon do’a restu kepada tetangga-tetangga.

Di keluarga saya kemarin, walimatus safar dilakukan pada H-8 pemberangkatan. Cukup kaget sebenarnya, ternyata dalam prosesi tersebut kita mengundang sekitar 350 orang, dan harus menutup jalan layaknya orang mantu :). Hari-hari setelah prosesi walimatus safar, tamu-tamu mulai berdatangan, semakin mendekati hari H semakin banyak pula tamu yang datang untuk mengucap selamat, memberi restu, atau bahkan minta didoakan. Nah disinilah biaya lain-lain dipakai. Karena tak sekedar camilan seadanya namun makan besar kadang disuguhkan. Dan sepertinya ini akan tetap berlanjut sampai H+10 atau 10 hari setelah jamaah haji pulang ke rumah.

Hari-hari sebelum pemberangkatan saya sulit bertemu Bapak untuk sekedar ngobrol tentang apa yang harus saya lakukan ketika mereka menunaikan ibadah haji nanti. Terlihat dari gerakan dan omongannya menunjukan sebuah catatan tapi selalu tertunda karena adanya tamu yang datang ke rumah, dan saya yang kadang keluar rumah ketika malam hari. Sampai saat H-2 saya putuskan untuk tidak keluar rumah sama sekali. Dan akhirnya kita bisa ngobrol tentang apa saja yang harus saya lakukan ketika mereka menunaikan ibadah haji.

Di dalam kamar bapak mulai menunjukan catatannya yang ditulis di buku catatan yang biasa dipakai anak-anak sekolah dengan tulisannya yang seperti biasa sulit saya baca :), jadi saya hanya mendengar perkataan Bapak dengan sekali-kali melihat tulisan untuk mencoba membacannya.

Di situ Bapak berpesan, karena orang perjalanan jauh itu “tidak pasti”, Bapak menuliskan beberapa pesan yang diantaranya adalah pembagian warisan. Jujur saya terkejut akan hal ini, tapi saya nggk mau berpikiran macam-macam, saya coba mendengar dan insyaAllah akan saya lakukan sebagaimana mestinya. Selain tentang warisan, Bapak juga punya cita-cita untuk meneruskan pembangunan mushola dekat rumah dan juga beberapa hal tentang mengurus pertanian yang harus saya kerjakan.

Pesan itu ternyata hanya disampaikan kepada saya saja, dan itu tugas saya untuk menyampaikan kepada yang lain apabila ada yang menanyakan itu. Bapak memutuskan tidak memberitahukan kepada kakak perempuan saya karena dia sudah mendapat mandat dari ibu untuk mengurusi toko yang ada di pasar dan di rumah. Bapak tidak mau menambahi beban pikirannya.

Hari Pemberangkatan

Pada hari pemberangkatan 30 september 2013, pimpinan Masjid Hisbullah mengajak para saudara atau tetangga untuk ikut melakukan sholat penghormatan di masjid sekaligus sholat shubuh di sana.

Sebelum berangkat ke masjid sekitar pukul 03.30 ada acara do’a bersama yang dihadiri oleh kerabat keluarga saja, disitu sudah ada sungkem-sungkeman part-1 :). Dan seperti biasa hujan air mata dimana-mana. Untuk kali ini saya masih kuat untuk menahan air mata :).

Setelah sholat shubuh di masjid, Bapak, Ibu, dan Nenek diantar ke tempat berkumpulnya jemaah haji, yaitu di rumah ketua KBIH untuk melakukan prosesi penghormatan sebelum pemberangkatan. Keadaan mulai sendu kembali menjelang akhir proses penghormatan ketika dibacakan adzan. Suara adzan begitu membuat merinding tidak hanya jemaah haji, tapi juga para kerabat dan keluarga yang hadir dalam prosesi tersebut. Dan air mata pun tak kuasa jatuh membasahi pipi, begitu pula saya.

Acara penghormatan selesai dan jemaah haji mulai berjalan menuju bus yang sekitar 200 meter di depan mereka. Kerabat, keluarga, tetangga otomatis membentuk barisan untuk bersalaman kepada semua jemaah haji. Disitu saya mengambil gambar Bapak, Ibu, dan Nenek yang bersalaman kepada barisan orang menuju ke bus dengan air mata yang masih mengucur. Saya pun tak kuasa menahan tangis, apalagi melihat Bapak yang menangis sampai tersedu-sedu. Baru kali ini saya melihat beliau menangis. Ketika Bapak memeluk saya dan memberi pesan “Tolong jaga rumah”, saya hanya bisa mengangguk tanpa kata-kata.

Semua jemaah haji sudah masuk bus dan mereka berangkat dengan melambaikan tangan di kaca bus. Kami disini hanya bisa mendoakan semoga perjalanannya lancar, aman, dan selamat sampai tujuan. Dan semoga bisa menjalankan semua rukun wajib dan sunnah haji dalam keadaan sehat. Kembali ke rumah juga dalam keadaan sehat dan menjadi haji yang mabrur. Aamin ya rabbal’alaimiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s