Good Parent Wanna be

Di umur saya sekarang ini saya mulai menyukai hal-hal yang berbau parenting.  Mulai dari bacaan, dengar cerita teman, bahkan sampai mengagumi sosok ayah yang keren. Saya nggak ingin kesalahan-kesalahan yang orang tua lakukan sekarang pada umumnya nantinya saya lakukan juga kepada anak-anak saya. Disamping saya mencari-cari artikel sendiri tentang dunia per-parenting-an saya juga membuat satu collection di Medium. Beberapa artikel yang saya temukan di Medium saya masukan ke dalam collection tersebut, selain itu saya juga bisa menerima submission dari user lain yang menulis sesuai tema collection saya.

Seperti yang saya katakan tadi saya juga mengagumi ayah-ayah yang melakukan pekerjaan sebagi seorang super-father, yaitu mereka yang saya pikir sangat bertanggung jawab dan sekilas seperti pahlawan di mata saya. Contoh yang paling dekat adalah teman saya, mas Rukma, dia seorang fulltime-father yang menjaga anaknya (yang sekarang berumur 7 bulan) mulai pagi hingga siang sampai istrinya datang. Istrinya seorang guru Sekolah Dasar yang berangkat pagi dan pulang siang hari. Di sela waktu itu, mas Rukma menjaga anaknya, memberi makan, mengganti popok dan juga bekerja. Itu bisa dia lakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Siangnya dia juga menjemput istrinya pulang dari mengajar. He’s like super hero, yes?

Saya pun punya keinginan sebagai fulltime-father suatu saat nanti. Oleh karena itu saya memilih pekerjaan saya sekarang. Seorang freelance remote worker. Pekerjaan sebagai fultime-father sudah pernah saya jajal selama sebulan lebih ketika bapak-ibu saya berangkat haji. Kakak perempuan saya menggantikan Ibu yang biasa menjaga tokonya di pasar. Jadi saya harus mengantar dan menjemput keponakan saya yang masih TK untuk sekolah. Seminggu pertama saya merasa antusias karena lambat laun itu akan terjadi pada saya, jadi itung-itung saya belajar dulu. Jam 8.30 mengantar keponakan ke sekolah jam 10.00 kembali lagi untuk menjemput. Dari situ ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, kesulitan terjadi ketika kalian sedang fokus dengan pekerjaan disela-sela jam menunggu untuk menjemput dan kemudian waktu habis karena harus menjemput. Saya merasa interupsi semacam itu mengganggu konsentrasi saya. Namun kendala itu harus saya lewati, hanya perlu membiasakan dan manajemen waktu dan fokus yang tepat.

Saya juga sering mengagumi seseorang secara random, orang yang belum pernah saya kenal tapi dia melakukan hal yang membuat saya takjub. Seperti bule yang saya temui di terminal shuttle bus saat saya menuju ke bandara Svarnabhumi, Thailand. Saat memasuki bus saya sudah merasa kagum dengan bule itu, karena dia pergi berdua saja dengan anaknya yang kurang lebih berumur 3-4 tahunan. Di dalam bus dia masih sempat membuatkan susu untuk anaknya. Dan dia juga menatakan bantal biar anaknya tadi tidur dengan nyaman. Pertanyaannya gimana bikin anak umur 3-4 tahun tidak rewel diajak travelling sejauh itu dan hanya dengan ayahnya saja? Pasti ayahnya punya peran penting membentuk mental seperti itu pada anaknya. Itulah mengapa saya tambah kagum sama bule itu. Dan saya harus berfoto dengannya! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s